Jelita memandang Lynx dengan khawatir, meski dia tahu Lynx mampu melawan suku Monrest dan perampok di pulau, tetapi Jelita sangat jarang melihat pertarungannya secara langsung. Dia lebih sering membantu tetua Drona untuk membuat ramuan."Hati-hati kepala suku." katanya dengan khawatir.

Pria itu mengayunkan pedangnya dengan penuh keyakinan, tetapi yang terjadi berikutnya membuatnya kebingungan. Saat dia merasa ayunan pedangnya hampir mengenai Lynx, dia mendadak merasakan tangannya ringan. Ketika dia menoleh, pedang di tangannya telah menghilang, dan kini ada di tangan Lynx. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, dia merasa pusing dan tubuhnya roboh ke tanah. Lynx hanya memberikan sabetan ringan di tengkuknya, cukup untuk membuatnya pingsan.

"Apa cuma segitu kemampuan kalian?" Jelita bertanya sambil tersenyum mengejek, nadanya penuh sindiran.

"A-apa kalian melihatnya? Dia mengalahkannya dengan mudah," gumam salah seorang dari mereka dengan ketakutan.

"Dia bahkan tidak membawa senjata," kata yang lainnya dengan tatapan ragu.

"Diam!" bentak Liang Wei dengan suara yang kini terdengar goyah. "Jangan takut padanya! Dia tidak mungkin bisa melawan kita semua sekaligus!"

"Kalau begitu, buktikan," kata Lynx, kali ini dengan nada rendah dan dingin, penuh ancaman. "Aku di sini. Kau masih punya waktu untuk memutuskan. Maju, atau pergi sekarang sebelum aku benar-benar bosan."

Hening. Ketegangan di udara semakin terasa. Liang Wei berusaha keras menyembunyikan rasa takutnya, namun keringat yang mengalir di pelipisnya jelas mengkhianati keberaniannya.

"Maju semuanya! Bunuh dia!" teriaknya dengan penuh amarah, meski nadanya bergetar. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Lynx akan binasa kali ini.

Anak buahnya maju serentak, namun Lynx tetap berdiri dengan tenang. Saat mereka menyerang, tubuhnya bergerak cepat, hampir seperti bayangan. Dengan mudah, Lynx menghindari setiap serangan, memanfaatkan tenaga mereka sendiri untuk membuat mereka bertabrakan satu sama lain. Dalam hitungan detik, senjata mereka telah direbut dan dilempar jauh, sementara satu per satu mereka tumbang dengan pukulan yang membuat mereka pingsan tanpa luka serius. Lynx tidak ingin membuat banyak masalah di dunia kultivasi jika tidak terpaksa. Setelah menemukan Leena dan memastikan kondisi penduduk suku Surya, dia akan meninggalkan mereka dan kembali kedunianya.

Akhirnya, hanya tersisa Liang Wei yang berdiri. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar, dan dia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan, seolah bisa memberinya perlindungan. "K-kamu... monster..." desisnya, hampir tidak terdengar.

Lynx melangkah mendekatinya perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya, membuat Liang Wei semakin panik. "Liang Wei," katanya dengan nada tenang, "aku ingin memberi sedikit nasihat. Dunia ini luas, dan banyak yang jauh lebih kuat darimu. Jadi, kalau kau berani membuat masalah, kau harus siap menanggung akibatnya." Sambil berkata, Lynx menepuk bahu Liang Wei dengan ringan.

Tepukan itu cukup untuk membuat Liang Wei kehilangan keseimbangan. Dia jatuh berlutut ke tanah, pedangnya terlepas dari genggamannya. "Ampun... Ampuni aku! Aku salah! Aku bersumpah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi!" Liang Wei memohon dengan suara gemetar.

Lynx menatapnya sebentar, lalu mengangguk ringan. "Baiklah. Aku terima permintaan maafmu. Tapi ingat, jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan bersikap sebaik ini."

Liang Wei mengangguk berulang kali, dengan tergesa-gesa menyeret tubuhnya menjauh, meninggalkan teman-temannya yang masih terkapar di tanah.

Jelita memandang Lynx dengan ekspresi kagum yang tulus. "Xiao Lin, kamu benar-benar terlalu kuat. Tapi aku harus bilang, melihat mereka panik seperti itu sangat menghibur."

Lynx hanya tersenyum kecil. "Belum selesai. Masih ada sesuatu yang lebih menarik."

"Belum selesai?" Jelita menatap Lynx dengan bingung. Matanya menyipit, mencoba mencari penjelasan atas ucapan Lynx.

Tiba-tiba, terdengar suara teriakan pelan dari arah Liang Wei. Jelita segera menoleh, dan betapa terkejutnya dia melihat Liang Wei telah tergeletak di tanah, tubuhnya bersimbah darah. Tak jauh dari sana, seorang pemuda melangkah maju dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Ekspresinya tenang, namun matanya memancarkan kebengisan.

"Kalian sudah memberikan tontonan yang menarik untukku," kata pemuda itu dengan nada dingin. "Pertarungan manusia biasa ternyata bisa terlihat begitu... menegangkan. Dan kau," dia melirik Lynx, "aku tidak menduga kau bisa mengalahkan mereka semua dengan mudah."

"Siapa kau?" tanya Jelita dengan tatapan tajam. Meski pembunuhan bukan hal asing baginya—terutama setelah bertahun-tahun melihat kekejaman suku Monrest—kematian mendadak Liang Wei tetap mengejutkannya. Dia tidak menyangka seseorang akan membunuhnya begitu saja.

Pemuda itu tersenyum tipis, matanya menyapu tubuh Jelita dari atas ke bawah, seperti sedang menilai sebuah barang. "Kau sangat cantik. Tidak pantas kau bersama pria seperti dia." Suaranya terdengar licik, membuat Jelita merasa tidak nyaman.

"Lalu, menurutmu, dia pantasnya dengan siapa? Denganmu? Pria jelek sepertimu?" Lynx tertawa kecil, nada suaranya penuh sindiran. Dia mengenali pemuda itu—seorang kultivator yang sebelumnya dia lihat di rumah makan, terus-menerus memperhatikan Jelita dengan tatapan mencurigakan.

Lynx melanjutkan dengan nada masih menyindir dan bersikap tenang,"Akhirnya kamu keluar, aku mengira kamu akan selalu bersembunyi. Bukankah sejak dirumah makan kamu selalu mengikuti kami."

"Ternyata kamu sudah menyadarinya," Pemuda itu memicingkan mata, amarah tersirat di wajahnya. "Berani sekali kau, manusia rendahan, berkata seperti itu. Kau bahkan tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi!"

Lynx tetap tenang, senyumnya tidak memudar sedikit pun. "Kalau tebakanku tidak salah, bukankah kau kultivator yang akhir-akhir ini meresahkan penduduk? Melakukan penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan?"

Mata pemuda itu menyipit tajam. Jelas dia tidak menyangka pria di depannya bisa mengetahui identitasnya. Dalam beberapa saat, pikirannya dipenuhi kebingungan. Dia sudah memeriksa Lynx dengan cermat—tidak ada sedikit pun tanda kekuatan Qi di tubuhnya. Bahkan jika Lynx menggunakan artefak untuk menyembunyikan kekuatan, seharusnya masih ada sedikit jejak yang terdeteksi. Namun, Lynx benar-benar tampak seperti manusia biasa.

"Mungkinkah pria ini memiliki kekuatan jauh di atas milikku, sehingga aku tidak bisa merasakannya?" pikirnya sambil mengamati Lynx lebih saksama. Sebagai kultivator, dia tahu bahwa kekuatan yang jauh di atas levelnya tidak bisa dirasakan.

"Tidak mungkin... Dia tidak terlihat kuat," pikirnya lagi, mencoba menenangkan diri.

"Kenapa kau malah diam? Pergilah dari sini dan jangan ganggu kami," kata Lynx dengan nada santai.

Pemuda itu menyeringai, mencoba memulihkan wibawanya. "Berani sekali kau bicara seperti itu. Kau bahkan tahu aku seorang kultivator, tapi tetap tidak takut atau berlutut!"

Lynx terkekeh, lalu berkata dengan santai, "Apa yang harus kutakutkan dari seorang master Foundation Perunggu tahap pertengahan seperti dirimu?"

Pemuda itu terkejut, wajahnya berubah pucat. "Bagaimana kau tahu tingkatanku?" tanyanya dengan nada penuh kecurigaan.

"Pergilah. Aku sedang buru-buru," balas Lynx sambil meraih tangan Jelita, mengisyaratkan bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan.

Namun, pemuda itu tidak menerima penghinaan begitu saja. "Kau hanya menebak! Tapi aku tidak akan melepaskanmu! Serahkan istrimu!" Dengan kecepatan kilat, dia bergerak maju, mengayunkan pedangnya yang kini bersinar terang, dialiri Qi, langsung ke leher Lynx.

Namun, Lynx tetap melangkah santai bersama Jelita, seolah tidak menyadari ancaman yang mendekat. Ketika pemuda itu sudah cukup dekat, dengan aura pedangnya yang semakin terasa, Lynx tiba-tiba bergerak cepat. Tidak ada yang bisa melihat gerakannya. Dalam sekejap, dia menghantam tangan pemuda itu, membuat pedangnya terlepas, lalu melancarkan pukulan tepat di dantian si pemuda. Pukulan itu cukup kuat untuk meretakkan dantiannya, membuat pemuda itu terlempar jauh dan jatuh keras ke tanah.

"Apa... apa yang terjadi?" gumam pemuda itu dengan kebingungan, tubuhnya terasa lemah, dan rasa sakit menjalar di perutnya.

Jelita berbalik, menatap pemuda itu dengan kaget. "Apa yang terjadi, Lynx?"

Lynx hanya mengangkat bahu dengan santai. "Dia jatuh sendiri. Mungkin terlalu ceroboh."

Pemuda itu menggeliat di tanah, wajahnya dipenuhi rasa sakit. "Kau... kau menghancurkan dantianku?!" raungnya marah. Dia mencoba mengalirkan Qi di tubuhnya, tetapi rasa sakit yang tajam membuatnya menyadari bahwa dantiannya telah hancur.

"Itu hukuman yang pantas untukmu," jawab Lynx dingin. "Biar penduduk desa yang mengurusmu." Dia membalikkan tubuhnya, mengabaikan pemuda yang masih bergeliat kesakitan.

